Rabu, 13 April 2011

Pemikiran Ekonomi Neoklasik

Sekitar pada tahun 1870 an pergeseran dalam aliran ekonomi, dimana aliran ekonomi yang baru ini menggantikan aliran ekonomi klasik. Alasan adanya pergeseran ini disamping pada waktu itu Nampak pentingnya kemajuan teknologi dan adanya penemuan-penemuan sumber produksi baru, juga ada kemungkinan-kemungkinan untuk perkembangan lebih lanjut di bawah kemajuan teknologi. Aliran baru ini disebut dengan aliran Neo-Klasik.

Kaum Neo-Klasik banyak menyumbangkan pendapatnya terhadap teori tingkat suku bunga dan dengan demikian banyak membahas masalah akumulasi kapital. Menurutnya perkembangan ekonomi dapat dijelaskan sebagai berikut :

 Adanya akumulasi kapital merupakan faktor penting dalam perkembangan ekonomi

 Perkembangan itu merupakan proses yang gradual

 Perkembangan merupakan proses yang harmonis dan kumulatif

 Aliran Neo-Klasik merasa optimis terhadap perkembangan

 Adanya aspek internasional dalam perkembangan tersebut.

Menurut Neo-Klasik, tingkat bunga dan tingkat pendapatan menentukan tingginya tingkat tabungan. Tingkat bunga juga menentukan tingginya tingkat investasi. Apabila tingkat bunga rendah maka investasi akan tinggi dan sebaliknya. Misal, suatu saat teknologi mengalami perkembangan, mengakibatkan permintaan investasi menjadi meningkat. Tambahan investasi ini akan mengakibatkan tingkat bunga mengalami kenaikan dengan demikian harga-harga barang kapital juga akan mengalami kenaikan.

Dengan demikian investasi selanjutnya dapat menurun dan hanya dilakukan pada proyek-proyek yang dianggap menguntungkan saja. Bila proyek tersebut terlaksana dan memberikan keuntungan maka permintaan investasi menjadi menurun dengan demikian tingkat bunga yang begitu rendah, sehingga tidak ada lagi masyarakat yang mau menabung. Pada saat itu akumulasi kapital berakhir dan perekonomian mengalami keadaan yang statis. Dengan adanya akumulasi kapital berarti tidak ada perkembangan. Untuk mengatasi perekonomian yang statis ini, maka full employment harus selalu dijaga selama proses akumulasi kapital. Pemerintah diharapkan selalu mengadakan proyek-proyek yang bersifat sosial atau melakukan proyek pekerjaan umum.

Menurut Alfred Marshall, investasi dan teknologi merupakan proses yang gradual dan terus-menerus. Adanya tehnik penemuan baru sebetulnya adalah merupakan suatu mata rantai atau rentetan dari penemuan-penemuan terdahulu. Marshall menggambarkan pula adanya suatu keharmonisan dalam perkembangan ekonomi karena adanya internal economies dan external economies.

Internal economies timbul karena adanya kenaikan dalam skala produksi yang tergantung pada sumber-sumber dan efisiensi dari pengusaha sendiri. Sedang external economies tergantung pada perkembangan industri-industri yang pada umumnya menyediakan kebutuhan-kebutuhan antar inovasi. Marshall menekankan pada sifat adanya saling ketergantungan dan komplementer dalam perekonomian. Keadaan ini yang nantinya akan memberikan suatu keuntungan dan akan mendorong sektor lain untuk berkembang.

Menurut Allen Young, bahwa perkembangan suatu inovasi tergantung pada pembagian kerja antar buruh. Pembagian kerja ini tergantung pada luas pasar dan sebaliknya luas pasar tergantung pada pembagian kerja yang ada dan seterusnya bersifat komulatif. Bila terjadi ekspansi pada satu sektor akan mendorong ekspansi ke sektor lain. Tidak ada satu sektor yang berdiri sendiri. Neo-Klasik selalu merasa optimis dalam perkembangan ekonomi, karena berpendapat bahwa ada kemampuan manusia untuk dapat mengatasi terbatasnya pertumbuhan itu dan selalu akan ada kemajuan-kemajuan di bidang teknologi secara gradual dan continous. Bagi Neo-Klasik hal yang terpenting adalah adanya kemampuan untuk selalu menabung dan berhemat. Disamping Pemerintah selalu berusaha untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang ada.

Suatu negara dalam perkembangan ekonomi akan mengalami tahapan-tahapan sebagai berikut :

1. Pada awalnya suatu negara merupakan negara peminjam atau impor kapital (immatture debtor)

2. Setelah kapital tersebut memberikan hasil, mulai negara tersebut membayar deviden dan bunga atas pinjaman kapital tersebut.

3. Setelah pendapatan nasionalnya meningkat terus, maka sebagian dari penghasilan tersebut digunakan untuk melunasi hutang dan sebagian lagi dipinjamkan ke negara lain yang membutuhkan. Akan tetapi deviden dan bunga yang harus dibayar masih melebihi deviden dan bunga yang diterima dari negara lain. Maka negara tersebut termasuk negara dengan tingkat debitur yang sudah mapan (mature debtor).

4. Akhirnya negara tersebut hanya menerima deviden dan bunga saja dari negara lain. Negara tersebut sekarang sudah pada tingkat kreditur yang sudah mapan (mature creditor).

Perintis analisis marjinal.

1. Mazhab neoklasik telah mengubah pandangan tentang ekonomi baik dalam teori maupun dalam metodologinya. Teori nilai tidak lagi didasarkan pada nilai tenaga kerja atau biaya produksi tetapi telah beralih pada kepuasan marjinal (marginal utility). Pendekatan ini merupakan pendekatan yang baru dalam teori ekonomi.

2. Salah satu pendiri mazhab neoklasik yaitu Gossen, dia telah memberikan sumbangan dalam pemikiran ekonomi yang kemudian disebut sebagai Hukum Gossen I dan II. Hukum Gossen I menjelaskan hubungan kuantitas barang yang dikonsumsi dan tingkat kepuasan yang diperoleh, sedangkan Hukum Gossen II, bagaimana konsumen mengalokasikan pendapatannya untuk berbagai jenis barang yang diperlukannya. Selain Gossen, Jevons dan Menger juga mengembangkan teori nilai dari kepuasan marjinal. Jevons berpendapat bahwa perilaku individulah yang berperan dalam menentukan nilai barang. Dan perbedaan preferences yang menimbulkan perbedaan harga. Sedangkan Menger menjelaskan teori nilai dari orde berbagai jenis barang, menurut dia nilai suatu barang ditentukan oleh tingkat kepuasan terendah yang dapat dipenuhinya. Dengan teori orde barang ini maka tercakup sekaligus teori distribusi.

3. Pemikiran yang sangat mengagumkan yang disusun oleh Walras tentang teori keseimbangan umum melalui empat sistem persamaan yang serempak. Dalam sistem itu terjadi keterkaitan antara berbagai aktivitas ekonomi seperti teori produksi, konsumsi dan distribusi. Asumsi yang digunakan Walras adalah persaingan sempurna, jumlah modal, tenaga kerja, dan lahan terbatas, sedangkan teknologi produksi dan selera konsumen tetap. Jika terjadi perubahan pada salah satu asumsi ini maka terjadi perubahan yang berkaitan dengan seluruh aktivitas ekonomi.

Teori produktivitas Marjinal.

1. Dasar pemikiran mazhab neoklasik pada generasi kedua lebih akurasi dan tajam karena bila dibandingkan dengan pemikiran ekonomi pada kelompok generasi pertama neoklasik. Hal ini dapat terjadi karena pemikiran generasi kedua menjabarkan lebih lanjut perilaku variabel-variabel ekonomi yang sudah dibahas sebelumnya. Lingkupan telah berkembang dari produksi, konsumsi, dan distribusi yang lebih umum beralih pada penjelasan yang lebih tajam.

2. Pertentangan pemikiran antara para ahli neoklasik seperti J.B. Clark dapat menjadi sumber inspirasi dari perkembangan ilmu ekonomi dalam menjelaskan teori distribusi fungsional, ditafsirkan oleh J.B Clark mempunyai nilai etik, yang secara langsung membantah teori eksploitasi. Dengan teori produktivitas marjinal upah tenaga kerja, laba serta lahan dan bunga ditetapkan dengan objektif dan adil. Tetapi masalahnya, apakah setiap pekerja mendapat upah sama dengan PPMt nya?

3. Penggunaan pendekatan matematis dalam analisis ekonomi terutama dalam fungsi produksi semakin teknis, dan dengan penggunaan asumsi-asumsi yang dialaminya juga bertambah seperti dalam kondisi skala tetap, meningkat atau menurun. Hal ini dikaitkan pula dengan bentuk kurva ongkos rata-rata, oleh Wicksell. Hal ini merupakan sumbangan besar dalam pembahasan ongkos perusahaan dan industri. Pada saat kurva ongkos rata-rata menurun, sebenarnya pada fungsi produksi terjadi proses increasing returns, dan pada saat kurva ongkos naik, pada kurva produksi terjadi keadaan decreasing returns. Selanjutnya, pada saat ongkos rata-rata sampai pada titik minimum, pada fungsi produksi berlaku asumsi constant return to scale.

4. Pemikiran lain yang menjadi sumber kontroversi seperti pandangan Bohm Bawerk telah menimbulkan kontroversi pula tentang hubungan antara modal dan bunga. Kontroversi ini pun timbul dari pandangan J.B. Clark. Clark mempunyai pendapat bahwa barang-barang sekarang mempunyai nilai lebih tinggi daripada masa depan, karena itu timbullah bunga. Tetapi, bunga juga dipengaruhi oleh produktivitas melalui keunggulan teknik. Bohm Bawerk memberikan adanya premium atau agio, karena kebutuhan sekarang lebih tinggi daripada masa datang. Tetapi, Fisher melihat dari arus pendapatan masa depan perlu dinilai sekarang, yang dipengaruhi oleh kekuatan subjektif dan objektif. Fisher menjelaskan pula terjadinya bunga melalui permintaan dan penawaran terhadap tabungan dan investasi. Fisher memberi sumbangan pula pada tingkat bunga. Tingkat bunga merupakan marginal rate of return over cost.

Pemikiran Marshall sebagai Bapak Neoklasik.

1. Sumbangan yang paling terkenal dari pemikiran Marshall dalam teori nilai merupakan sitetis antara pemikiran pemula dari marjinalis dan pemikiran Klasik. Menurutnya, bekerjanya kedua kekuatan, yakni permintaan dan penawaran, ibarat bekerjanya dua mata gunting. Dengan demikian, analisis ongkos produksi merupakan pendukung sisi penawaran dan teori kepuasan marjinal sebagai inti pembahasan permintaan. Untuk memudahkan pembahasan keseimbangan parsial, maka digunakannya asumsi ceteris paribus, sedangkan untuk memperhitungkan unsur waktu ke dalam analisisnya, maka pasar diklasifikasikan ke dalam jangka sangat pendek, jangka pendek, dan jangka panjang. Dalam membahas kepuasan marjinal terselip asumsi lain, yakni kepuasan marjinal uang yang tetap.

2. Pemikiran Alfred Marshall mahir dalam menggunakan peralatan matematika ke dalam analisis ekonomi. Dia memahami, bahwa untuk memudahkan pembaca, maka catatan-catatan matematikanya diletakkan pada bagian catatan kaki dan pada lampiran bukunya. Pembahasannya tentang kepuasan marjinal telah mulai sebelum 1870, sebelum buku Jevons terbit, tetapi karena orangnya sangat teliti dan modes, dia tidak mau cepat-cepat menerbitkan bukunya.

3. Dalam pembahasan sisi permintaan, Marshall telah menghitung koefisien barang yang diminta akibat terjadinya perubahan harga secara relatif. Nilai koefisien ini dapat sama dengan satu, lebih besar dan lebih kecil dari satu. Tetapi, ada dua masalah yang belum mendapat penyelesaian dalam hal sisi permintaan, yakni aspek barang-barang pengganti dan efek pendapatan. Robert Giffen telah dapat membantu penyelesaian kaitan konsumsi dan pendapatan dengan permintaannya terhadap barang-barang, sehingga ditemukan Giffen Paradox. Peranan substitusi kemudian diselesaikan oleh Slurtky.

4. Marshall menemukan surplus konsumen. Pengertian ini dikaitkan pula dengan welfare economics. Bahwa konsumen keseluruhan mengeluarkan uang belanja lebih kecil daripada kemampuannya membeli. Jika itu terjadi maka terjadi surplus konsumen. Selama pajak yang dikenakan pada konsumen lebih kecil daripada surplusnya itu, maka kesejahteraannya tidak menurun. Tetapi, pajak juga dapat digunakan untuk subsidi, terutama bagi industri-industri yang struktur ongkosnya telah meningkat. Marshall menjelaskan pula mengapa kurva ongkos total rata-rata menurun dan meningkat. Hal ini berkaitan dengan faktor internal dan eksternal perusahaan atau industri.

5. Mekanisme permintaan dan penawaran dapat mendatangkan ketidakstabilan, karena setiap usaha yang dilakukan untuk kembali ke posisi seimbang ternyata membuat tingkat harga dan jumlah barang menjauhi titik keseimbangan. Keadaan tidak stabil itu terjadi jika kurva penawaran berjalan dari kiri-atas ke kanan-bawah. Jika variabel kuantitas independen, terjadi kestabilan, tetapi jika berubah harga menjadi independen, maka keadaan menjadi tidak stabil.

new

Pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)

Pendahuluan

Strategi belajar-mengajar adalah cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan materi pelajaran dalam lingkungan pengajaran tertentu, yang meliputi sifat, lingkup dan urutan kegiatan yang dapat memberikan pengalaman belajar kepada siswa (Gerlach dan Ely). Strategi belajar-mengajar tidak hanya terbatas pada prosedur kegiatan, melainkan juga termasuk di dalamnya materi atau paket pengajarannya (Dick dan Carey)[1]. Strategi belajar-mengajar terdiri atas semua komponen materi pengajaran dan prosedur yang akan digunakan untuk membantu siswa mencapai tujuan pengajaran tertentu dengan kata lain strategi belajar-mengajar juga merupakan pemilihan jenis latihan tertentu yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai (Gropper). Tiap tingkah laku yang harus dipelajari perlu dipraktekkan. Karena setiap materi dan tujuan pengajaran berbeda satu sama lain, makajenis kegiatan yang harus dipraktekkan oleh siswa memerlukan persyaratan yang berbeda pula.

Menurut Gropper sesuai dengan Ely bahwa perlu adanya kaitan antara strategi belajar mengajar dengan tujuan pengajaran, agar diperoleh langkah-langkah kegiatan belajar-mengajar yang efektif dan efisien. Ia mengatakan bahwa strategi belajar-mengajar ialah suatu rencana untuk pencapaian tujuan. Strategi belajar-mengajar terdiri dari metode dan teknik (prosedur) yang akan menjamin siswa betul-betul akan mencapai tujuan, strategi lebih luas daripada metode atau teknik pengajaran. Strategipun dapat di klasifikasikan .

Klasifikasi strategi belajar-mengajar, berdasarkan bentuk dan pendekatan debagi menjadi 1.Expository dan Discovery/Inquiry , 2.Discovery dan Inquiry, 3.Pendekatan konsep, 4.Pendekatan Cara Belajar Stswa Aktif (CBSA) . dan pada kesempatan ini pemakalah akan menkelaskan tentang pendekatan cara belajar siswa aktif (CSBA)

Pembahasan

Pendekatan Cara Belajar Stswa Aktif (CBSA)

Pendekatan ini sebenamya telah ada sejak dulu, ialah bahwa di dalam kelas mesti terdapat kegiatan belajar yang mengaktifkan siswa (melibatkan siswa secara aktif). Hanya saja kadar (tingkat) keterlibatan siswa itulah yang berbeda. Kalau dahulu guru lebih banyak menjejalkan fakta, informasi atau konsep kepada siswa, akan tetapi saat ini dikembangkan suatu keterampilan untuk memproses perolehan siswa. Kegiatan belajar-mengajar tidak lagi berpusat pada siswa (student centered). [2]

Siswa pada hakekatnya memiliki potensi atau kemampuan yang belum terbentuk secara jelas, maka kewajiban gurulah untuk merangsang agar mereka mampu menampilkan potensi itu, betapapun sederhananya. Para guru dapat menumbuhkan keterampilan-keterampilan pada iswa sesuai dengan taraf perkembangannya, sehingga mereka memperoleh konsep. Dengan mengembangkan keterampilan keterampilan memproses perolehan, siswa akan mampu menemukan dan mengembangkan sendin fakta dan kosep serta mengembangkan sikap dan nilai yang dituntut. Proses belajar-mengajar seperti inilah yang dapat menciptakan siswa belajar aktif.

Hakekat dad CBSA adalah proses keterlibatan intelektual-emosional siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang memungkinkan terjadinya:

Ø Proses asimilasi/pengalaman kognitif, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan

Ø Proses perbuatan/pengalaman langsung, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya keterampilan

Ø Proses penghayatan dan internalisasi nilai, yaitu: yang memungkinkan terbentuknya nilai dan sikap

Walaupun demikian, hakekat CBSA tidak saja terletak pada tingkat keterlibatan intelektual-emosional, tetapi terutama juga terletak pada diri siswa yang memiliki potensi, tendensi atau kemungkinan kemungkinan yang menyebabkan siswa itu selalu aktif dan dinamis. Oleh sebab itu guru diharapkan mempunyai kemampuan profesional sehingga ia dapat menganalisis situasi instruksional kemudian mampu merencanakan sistem pengajaran yang efektif dan efisien.

Dalam menerapkan konsep CBSA, hakekat CBSA perlu dijabarkani menjadi bagian-bagian kecil yang dapat kita sebut sebagai prinsip-pninsip CBSA sebagai suatu tingkah laku konkret yang dapat diamati. Dengan demikian dapat kita lihat tingkah laku siswa yang muncul dalam suatu kegiatan belajar mengajar karena memang sengaja dirancang untuk itu. [3]

Prinsip-prinsip CBSA:

Dan uraian di atas kita ketahui bahwa prinsip CBSA adalah tingkah laku belajar yang mendasarkan pada kegiatan-kegiatan yang nampak, yang menggambarkan tingkat keterlibatan siswa dalam proses belajar-mengajar baik intelektual-emosional maupun fisik, Prinsip-Prinsip CBSA yang nampak pada 4 dimensi sebagai berikut:

a. Dimensi subjek didik :

Ø Keberanian mewujudkan minat, keinginan, pendapat serta dorongan-dorongan yang ada pada siswa dalam proses belajar-mengajar. Keberanian tersebut terwujud karena memang direnca nakan oleh guru, misalnya dengan format mengajar melalui diskusi kelompok, dimana siswa tanpa ragu-ragu mengeluarkani pendapat.

Ø Keberanian untuk mencari kesempatan untuk berpartisipasi dalam persiapan maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar-mengajar maupun tindak lanjut dan suatu proses belajar mengajar. Hal mi terwujud bila guru bersikap demokratis.

Ø Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu yang memang dirancang olch guru.

Ø Kreatifitas siswa dalam menyelesaikan kegiatan belajar sehingga dapat mencapai suatu keberhasilan tertentu, yang memang dirancang oleh guru.

Ø Peranan bebas dalam mengerjakan sesuatu tanpa merasa ada tekanan dan siapapun termasuk guru.

b. Dimensi Guru

1. Adanya usaha dan guru untuk mendorong siswa dalam meningkatka kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar-mengajar.

2. Kemampuan guru dalam menjalankan peranannya sebagai inovator dan motivator.

3. Sikap demokratis yang ada pada guru dalam proses belajar-mengajar.

4. Pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar sesuai dengan cara, mama serta tingkat kemampuan masing-masing.

5. Kemampuan untuk menggunakan berbagai jenis strategi belajar-mengajar serta penggunaan multi media. Kemampuan mi akan menimbulkan lingkuñgan belajar yang merangsang siswa untuk mencapai tujuan.

c. Dimensi Program

v Tujuan instruksional, konsep serta materi pelajaran yang memenuhi kebutuhan, minat serta kemampuan siswa; merupakan suatu hal yang sangat penting diperhatikan guru.

v Program yang memungkinkan terjadinya pengembangan konsep mau pun aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar.

v Program yang fleksibel (luwes); disesuaikan dengan situasi dan kondisi.

d. Dimensi situasi belajar-mengajar

v Situasi belajar yang menjelmakan komunikasi yang baik, hangat, bersahabat, antara guru-siswa maupun antara siswa sendiri dalam proses belajar-mengajar.

v Adanya suasana gembira dan bergairah pada siswa dalam proses belajar-mengajar.

Rambu-rambu CBSA :

Yang dimaksud dengan rambu-rambu CBSA adalah perwujudan prinsip-prinsip CBSA yang dapat diukur dan rentangan yang paling rendah sampai pada rentangan yang paling tinggi, yang berguna untuk menentukan tingkat CBSA dan suatu proses belajar-mengajar. Rambu-rambu tersebut dapat dilihat dari beberapa dimensi. Rambu-rambu tersebut dapat digunakan sebagai ukuran untuk menentukan apakah suatu proses belajar-mengajar memiliki kadar CBSA yang tinggi atau rendah. Jadi bukan menentukan ada atau tidak adanya kadar CBSA dalam proses belajar-mengajar. Bagaimanapun lemahnya seorang guru, namun kadar CBSA itu pasti ada, walaupun rendah.

a.Berdasarkan pengelompokan siswa :

Strategi belajar-mengajar yang dipilih oleh guru hams disesuaikan dengan tujuan pengajaran serta materi tertentu. Ada materi yang sesuai untuk proses belajar secara individual, akan tetapi ada pula yang lebih tepat untuk proses belajar secara kelompok. Ditinjau dari segi waktu, keterampilan, alat atau media serta perhatian guru, pengajaran yang berorientasi pada kelompok kadang-kadang lebih efektif.

b.Berdasarkan kecepatan nzasing-rnasing siswa :

Pada saat-saat tertentu siswa dapat diberi kebebasan untuk memilih materi pelajaran dengan media pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan mereka masing-masing. Strategi ini memungkinkan siswa untuk belajar lebih cepat bagi mereka yang mampu, sedangkan bagi mereka yang kurang, akan belajar sesuai dengan batas kemampuannya. Contoh untuk strategi belajar-mengajar berdasarkan kecepatan siswa adalah pengajaran modul.

c.Pengelompokan berdasarkan kemampuan :

Pengelompokan yang homogin han didasarkan pada kemampuan siswa. Bila pada pelaksanaan pengajaran untuk pencapaian tujuan tertentu, siswa harus dijadikan satukelompok maka hal mi mudah dilaksanakan. Siswa akan mengembangkan potensinya secara optimal bila berada disekeliling teman yang hampir sama tingkat perkembangan intelektualnya.

d.Pengelompokkan berdasarkan persamaan minat :

Pada suatu guru perlu memberi kesempatan kepada siswa untuk berkelompok berdasarkan kesamaan minat. Pengelompokan ini biasanya terbentuk atas kesamaan minat dan berorientasi pada suatu tugas atau permasalahan yang akan dikerjakan.

e.Berdasarkan domein-domein tujuan :

Strategi belajar-mengajar berdasarkan domein/kawasan/ranah tujuan, dapat dikelompokkan sebagai berikut:

Menurut Benjamin S. Bloom CS, ada tiga domein ialah: 1) Domein kognitif, yang menitik beratkan aspek cipta. 2) Domein afektif, aspek sikap. 3) Dornein psikomotor, untuk aspek gerak.

Gagne mengklasifikasi lima macam kemampuan ialah: 1) Keterampilan intelektual. 2) Strategi kognitif. 3) Informasi verbal. 4) Keterampilan motorik. 5) Sikap dan nilai.

Di samping pengelompokan (klasifikasi) tersebut di atas, masih ada pengelompokkan yang lebih komprehensif dalam arti meninjau beberapa faktor sekaligus seperti, wawasan tentang manusia dan dunianya, tujuan serta lingkungan belajar. Pendapat ini dikemukakan oleh Bruce Joyce dan Marsha Well dengan mengemukakan rumpun model-model mengajar sebagai berikut :

a. Rumpun model interaksi sosial

b. Rumpun model pengelola informasi Rumpun model personal-humanistik

c. Rumpun model modifikasi tingkah laku.

T. Raka Joni mengemukakan suatu kerangka acuan yang dapat digunakan untuk memahami strategi belajar-mengajar, sebagai berikut:

1.Pengaturan guru-siswa :

O Dari segi pengaturan guru dapat dibedakan antara : Pengajaran yang diberikan oleh seorang guru atau oleh tim

O Hubungan guru-siswa, dapat dibedakan : Hubungan guru-siswa melalui tatap muka secara langsung ataukah melalui media cetak maupun media audio visual.

O Dari segi siswa, dibedakan antara : Pengajaran klasikal (kelompok besar) dan kelompok kecil

(antara 5 - 7 orang) atau pengajaran Individual (perorangan).

2. Struktur peristiwa belajar-mengajar :

Struktur peristiwa belajar, dapat bersifat tertutup dalam arti segala sesuatunya telah ditentukan secara ketat, misalnya guru tidak boleh menyimpang dari persiapan mengajar yang telah direncanakan. Akan tetapi dapat terjadi sebaliknya, bahwa tujuan khusus pengajaran, materi serta prosedur yang ditempuh ditentukan selama pelajaran berlangsung. Struktur yang disebut terakhir ini memberi kesempatan kepada siswa untuk ikut berperan dalam menentukan apa yang akan dipelajari dan bagaimana langkah langkah yang akan ditempuh.

3. Peranan guru-siswa dalam mengolah pesan :

Tiap peristiwa belajar-mengajar bertujuan untuk mencapai suatu tujuan tertentu, ingin menyampaikan pesan, informasi, pengetahuan dan keterampilan tertentu kepada siswa. Pesan tersebut dapat diolah sendiri secara tuntas oleh guru sebelum disampaikan kepada siswa, namun dapat juga siswa sendid yang diharapkan kepada siswa, namun dapat juga siswa sendid yang diharapkan mengolah dengan bantuan sedikit atau banyak dan guru. Pengajaran yang disampaikan dalam keadaan siap untuk ditedma siswa, disebut strategi ekspositorik, sedangkan yang masih harus diolah oleh siswa dinamakan heudstik atau hipotetik. Dan strategi heuristik dapat dibedakan menjadi dua jenis ialah penemuan (discovery) dan penyelidikan (inquiry), yang keduanya telah diterangkan pada awal bab ini.

4.Proses pengolahan pesan :

Dalam peristiwa belajar-mengajar, dapat terjadi bahwa proses pengolahan pesan bertolak dari contoh-contoh konkret atau peristiwa-peristiwa khusus kemudian diambil suatu kesimpulan (generalisasi atau pnnsip-pnnsip yang bersifat umum). Strategi belajar-mengajar yang dimulai dari hal-hal yang khusus menuju ke umum tersebut, dinamakan strategi yang bersifat induktif.

Referensi

Djamarah ,saiful bahri. Zain, aswan , Strategi Belajar Mengejar,cetaakan kedua PT Asdi Mahastya, Jakarta 2002.

Conny semiawan ,dkk, Pendekatan Keterampilan Proses Bagaimana Mengaktifkan Siswa dalam belajar, gramedia Jakarta 1985.

Ali, muhamad , Guru Dalam Proses Belajar Mengajar ,sinar baru bandung ,cet VIII,1992.

Sidjana ,nana, dan Wari,suwariah , Model-model Mengajar CBSA, sinar baru, bandung, cet I 1991.



[1] Djamarah ,saiful bahri. Zain, aswan , Strategi Belajar Mengejar,cetaakan kedua PT Asdi Mahastya, Jakarta 2002. Hal: 54.

[2] Ibid hal : 103

[3] Sidjana ,nana, dan Wari,suwariah , Model-model Mengajar CBSA, sinar baru, bandung, cet I 1991, hal : 120.

Kamis, 02 April 2009

FILSAFAT

Filsafat merupakan aktivitas fikir pada manusia yang tercermin pada sikap dan prilaku.

AKTIFITAS FIKSI

  1. Qadariah
  2. Bukan Qodratiyah

Qodratiyih adalah pola fikir yang terbentuk secara alamiyah, tidak melalui belajar. Pengetahuan yang diciptakan dari aktivitas fikir, semua bercorak subjektif. Maka filsafat berupay a menjelaskan proses pengetahuan tersebuut, agar tidak di angap MITOS belaka.

PENGETAHUAN TTENTANG PENGETAHUAN

Pengetahuan
  1. Pengalam
  2. Ilmia
  3. Agama

Pengetahuan Pengalaman yaitu seperti, secara tidak sadar kita bisa menyebutkan nama benda yang ada di sekeliling kita tanpa berpikir lagi, karena secara tidak sadar ketika melihat dan mendengar benda i t u, kita telah mengumpulka ciri benda tersebut. Secara tidak sadar kita terlibat dalam proses PEMBIASAAN. Dalam filsafat, istilah pengalaman bermakna indrawi juga bermakna psikis, bahkan pengalaman batini.

Pengetahuan ilmiah yaitu pen\getahuan yang menggunakan metode ilmih, contohnya: mbok jamu yang meramu jamunya berdasarkan pengalaman-penngalaman, kemudian di teliti lagi oleh ahli farmasi, di labolatorium. dan yang dilakukan oleh ahli farmasi inilah yang di sebut PENGETAHUAN ILMIAH.

Pengetahuan agama yaitut pengetahuan yang menjadikan sumber keagamaan sebagai objek kajiannya. Al qur'an dan sunnah rosul misalnya. Inila h yang di jadikan pokok dan memposisikan capaian usaha manusia dalam mennggapai kebenaran itu sebagai sekunder. Inilah prinsip yang mesti di pegang oleh ilmuan agama.

FILSAFAT METAFISIKA teologi

Kosmologi

Atropollogi

EPITEMOLOGI logika

Filsafat ilmu

AKSIOLOGI etika

Estetika

METAFISIKA adalah suatu ilmu yang mengungkap misteri di balik realitas atau ilmu yang berusaha menjangkau sesuatu di balik fisik.

ý Teologi adalah ilmu yang mempelajari hal-hal yang dikaitkan dengan tuhan.

ý Kosmologi aalah pengetahuan tentang keteraturan alam, di balik alam fisik.

ý Atropologi adalah ilmu yang mengkaji tentng hakeket manusia.

EPITEMOLOGI adalah ilmu tentang pengetahuan,mengkaji apa itu ilmu? dari mana datangnya? Sehingga pengetahuan itu tidak menjadi MITOS belaka.

i. Logika adalah suatu ruh pemikirn yang menyimpulkan bahwa pengetahuan yang benear itu adalah pengetahuan yang dapat di pertanggung jawabkan dan sesuai dengan kenyataan yang ada.

Logika natural: yaitu pola pikir teratur yang tumbuh secara alami.

Logika saintifisika: yaitu logika yang di peroleh melalui belajar dan memang digunakan untuk membangun pengetahuan.

ii. Filsafat ilmu adalahh sebagai disiplin ilmu atau juga sebagai landasn filsafat ilmu pengetahuan.

AKSIOLOGI adalah satu cabang filsafat yang menyelidiki hakekat nilai. Di sebut juga TEORI NILAI.

v Etika adalah filsafat yang mengkji tentang persoalan moral prilaku manuia atau kualitas prilaku baik dari manusia .

Macamm kajian etika :

etika deskriptif yaitu etika yang terlibat analisis kritis tentang sikap dan prilaku manusia dan nilai apa yang ingin dicapai dalam hidup ini.

Etika normatif yaitu etika yang berusaha menetapkan berbagai sikap dan prilaku ideal yang seharusnya dimiliki dan di jalankan manusia serta tindakn apa yang harus dilakukan untuk menggapai nilai dalam hidup ini

Sudut pandang etika :

1. Teleologis yaitu prilaku yang dilihat dari tujuannya .

2. Idealisme transendens: tujuan yang ingin dicapai adalah kebaikan hakiki, kebaikan ideal.

3. Hedonisme : tujuan yang ingin dicapai sekarang ini di dunia ini.

Deontologis yaitu prilaku yang dilihat dari sudut proses.

v Estetika adalah ilmu yang mengkaji tentang nilai tentang keindahan. Apa itu INDAH?

Aliran seni sebagai wujud ekspresi terhadap keindahan dalam kajian estetika:

· Aliran naturalis: yaitu bentuk seni yang menekankan pada ekspresi alamiah.

· Aliran tradisional: yaitu ekspresi seni yang menekankan pada konservasi budaya dan tradisi serta biasanya bercorak spiritual.

· Aliran modern: yaitu ekspresi seni yang dalam banyak hal di pangaruhi oleh budaya barat.

· Aliran religius: yaitu bentuk seni sebagai ekspresi keagamaan.